Pentingnya Menahan Keinginan Berbelanja saat Punya Pinjaman Tunai

Menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan itu yang paling penting bukan menahan diri dari haus dan lapar. Jauh dari itu, misi utamanya adalah menahan keinginan untuk berbuah hal-hal yang merugikan. Salah satunya keinginan untuk membelanjakan pinjaman dana tunai yang baru dicairkan. Mengapa sikap ini penting diterapkan?

Melatih Disiplin Diri

Seorang yang disiplin pasti tahu mana yang lebih penting untuk dilakukan. Sedangkan hal-hal yang tidak penting dan tidak memiliki pengaruh baik pasti ditinggalkan. Di sinilah letak sulitnya mengelola sikap disiplin ketika masih punya pinjaman dari pihak lain. Salah langkah sedikit saja, Anda akan kesulitan untuk membayar cicilan per bulannya.

Misalnya saja gaji bulanan Anda senilai 2 juta Rupiah. Uang 2 juga hasil pekerjaan selama puasa mau digunakan untuk momen Lebaran. Maka dari itu, Anda mudik ke kampung halaman. Tapi masalahnya, Anda juga butuh biaya untuk makan selama Ramadhan. Jadi, Anda pun meminjam dana dari bank, katakanlah dari Tunaiku, senilai 2 juta Rupiah.

Targetnya, uang tersebut harus cukup digunakan untuk makan selama 30 hari. Tiba-tiba istri Anda merengek minta dibelikan baju, atau anak-anak merengek mau jalan-jalan ke tempat wisata. Padahal biaya itu bisa menguras ΒΌ dari dana pinjaman, bahkan bisa separuhnya. Lebih baik tahan dulu keinginan itu. Bilang saja, harus menunggu momen Lebaran tiba.

Meningkatkan Pengendalian Diri

Orang yang suka berbelanja tanpa memikirkan dampaknya, pertanda ia memiliki pengendalian diri yang rendah. Hal ini sudah banyak memakan korban. Pada akhirnya menyesal karena telah membeli barang yang tidak benar-benar dibutuhkan. Demi rencana keuangan yang baik, sudah sepatutnya gunakan pinjaman tunai seperlunya saja.

Hindari atau bila perlu, tiadakan saja niat berbelanja selama Ramadhan. Untuk orang yang sudah ketagihan berbelanja, lakukan tips mempertimbangkan dalam beberapa hari setelah keinginan muncul. Tahan kira-kira selama 3 hari. Biarkan gejolak keinginan itu reda. Kemudian Anda baru putuskan, mau beli itu atau tidak berdasarkan pertimbangan yang ada.

Melatih Pikiran untuk Berorientasi ke Masa Depan

Keinginan berbelanja yang terlalu sering akan membentuk suatu mindset terhadap diri seseorang. Mindset ini sangat berbahaya ketika masih punya tanggungan berupa pinjaman. Rata-rata, orang yang berbelanja itu hanya memikirkan saat itu saja. Ketika gejolak keinginan masih menggebu-gebu.

Sedangkan orang yang mampu menahan keinginan untuk berbelanja punya nilai khusus. Ia akan melihat berdasarkan efek yang ditimbulkan yang berarti memiliki kaitan dengan masa depan. Ia begitu percaya pada hukum sebab-akibat. Ketika dana yang harusnya dipakai untuk makan sekeluarga, justru untuk berbelanja. Akibatnya Anda dan keluarga yang rugi nanti.

Meningkatkan Sikap Dewasa dalam Diri Anda

Orang yang berbelanja rata-rata dipicu oleh keinginan untuk memiliki sesuatu yang baru, nge-tren, dan sebagainya. Sedangkan orang yang mampu menahan keinginan itu menjadi semakin tahu arti dari barang yang dibeli sebelumnya. Ia mampu mengenali sisi nyaman dari sebuah barang. Katakanlah baju. Kalau masih nyaman dipakai, kenapa harus beli?

Tidak ada salahnya kok bila Anda tetap meneruskan hobi berbelanja saat masih punya tanggungan berupa pinjaman tunai. Tapi segala risiko yang ada, wajib Anda tanggung. Segala hal memiliki risiko maupun konsekuensinya. Asalkan Anda berani jamin bisa melunasi pinjaman tersebut dan cukup untuk kebutuhan selama Ramadhan, berbelanjalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *